It is always morning when we met It is always the same thing that we said For anything to be recognized as that It must be it, isn't? Something that is deeper than any A relation that last longer than many Was the beginning that heavy? If only time can go swiftly It must be it, isn't? The constancy is frightening The viscosity is more than just searing But if it isn't than is it isn't? Words are just a medium Air is floating like a helium But life wasn't going anywhere And I was there And so do you That's is us.
Aku merasa sangat penasaran, sadarkah seorang manusia ketika ia sedang mengucapkan kalimat negatif kepada orang lain ataupun dirinya sendiri? Kurasa kita semua sama-sama tidak sadar pada saat itu, akan tetapi setelahnya kita bisa memilih untuk menyadarinya atau cukup mengabaikannya. Bukankah begitu? Manusia sangat gampang berkata negatif terutama kepada orang lain, kenapa? Apakah itu suatu bentuk justifikasi diri sendiri? Ataukah memang orang lain berhak untuk mendengar kata-kata itu dari mulut kita? Secara pribadi aku merasa bahwa kata-kata negatif yang tidak disertai dengan pembuktian dan penjelasan akan tindakan yang seharusnya dilakukan bukanlah sesuatu hal yang pantas untuk didengarkan oleh orang lain. Mengapa? Karena bisa jadi kata-kata negatif itu muncul secara subjektif dan pada kenyataannya sering seperti itu. Haruskah kita mengucapkan pemikiran buruk kita kepada orang lain hanya karena kita merasa tidak cocok dengan perilakunya? Padahal kita tidak mencerna perilaku itu d...
Sifat, karakter, ciri khas masing-masing orang tentunya berbeda. Namun yang tersulit adalah mencoba memahaminya. Maka dari itu, janganlah coba pahami, anggaplah sebagai angin lalu. Apa-apa yang dilakukan manusia lain pastinya berimbas kepada diri kita. Namun yang tersulit adalah mencoba mengantisipasinya. Maka dari itu, janganlah coba mengantisipasi, biarkan kejadian berlalu lalang melewatimu. Entah bersinggungan, entah melompati takdir kita. Bukanlah tugas kita untuk memikirkan persinggungan takdir, tugas kita hanyalah melaluinya dengan baik. Betapa mudahnya tugas kita sebagai manusia, sementara yang Kuasa di atas sana terlalu mahir untuk bisa diakali, akal pun Ia yang memberi. Pikirkan baik-baik, kita yang sudah begitu banyak diberi di dunia ini, mengapa masih saja merasakan iri? Sungguh perbuatan yang tidak berarti.
Komentar
Posting Komentar